Penjara Bukan Solusi Bagi Para Pecandu Narkoba

 

Kampanye “Support. Don’t Punish.” telah dilaksanakan di sejumlah kota di Indonesia sejak tahun 2013. Waktu pelaksanaannya secara global berlangsung setiap 26 Juni bersamaan dengan peringatan Hari Internasional “Melawan Penyalahgunaan & Perdagangan Gelap Narkoba”. Kampanye ini menyerukan agar pendekatan hukum pidana bagi pengonsumsi narkoba diganti dengan pendekatan kesehatan masyarakat yang berpeluang efektif mengatasi persoalan-persoalan dan dampak dari penggunaan narkoba itu sendiri.

 Di tahun 2019 ini melalui serangkaian kerjasama dan dukungan dari HR Asia melalui perkumpulan rumah cemara, Yayasan Caritas PSE Keuskupan Agung Medan Melaksanakan kegiatan kampanye global  “Support Don’t Punish“ di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Acara yang bertemakan penjara bukan solusi ini terdiri dari dua kegiatan, di awali dengan jalan sehat bersama masyarakat Lubuk Pakam dan dilanjutkan dengan kegiatan Dialog Publik. Aktivis dan penggiat advokasi kebijakan napza Eka Prahadian Abdurahman , Ketua Barisan Intelektual Muda KBPP Polri Mewakili Kaum Milenial Yudhi Wiliam Pranata dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klass IIB Lubuk Pakam Johni Gultom turut hadir sebagai narasumber dalam dialog publik tersebut.

Acara Gerak jalan dan dialog publik ini berjalan dengan lancar dan di hadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti , pelajar , instansi pemerintah dan tokoh pemuda keagamaan. Dalam sambutannya, Taufik Ismail sebagai Ketua Panitia yang juga merupakan aktivis advokasi kebijakan napza ini menyatakan bahwa kegiatan ini di lakukan bertujuan untuk memberikan edukasi pada masyarakat dan juga memberikan dorongan kepada pemerintah untuk segera membuat produk hukum yang humanis dan mengedapankan unsur hak kesehatan dan hak sosial  bagi para korban penyalahgunaan napza di Deli Serdang. Hal senada juga di cetuskan oleh narasumber dialog publik Eka Prahadian Abdurahman yang akrab di sapa Mas Ewo, beliau menyatakan Perspektif undang-undang 35 tahun 2009 yang harus di rubah dari perspektif pemidanaan menjadi persfektif kesehatan karena pengguna napza adalah orang sakit. Selanjutnya KALAPAS KLAS IIB Bapak Jhoni Gultom Deli serdang menyatakan, saat ini pihak nya membina kurang lebih 1600 warga binaan yang 1026 diantaranya adalah tindak pidana narkoba yang menjadikan lapas Klas IIB Lubuk pakam kelebihan daya tampung yang awalnya hanya berkapasitas 350 orang. Di penghujung acara dialog tersebut Yudi Wiliam Pranata selaku perwakilan kaum pemuda dan kaum milenial menyatakan bahwa kegiatan ini bisa di dorong dengan kekuatan milenial melalui berbagai media sosial dan lain sebagainya untuk menyebarkan informasi ke komunitas nya agar para kaum milenial dapat mengggaungkan kampanye  "support don’t punish" demi mewujudkan Indonesia tanpa stigma bagi para korban penyalahgunaan napza.