Diskusi Perkembangan Mitra TFCA Bersama Direktur Eksekutif Yayasan Kehati

Mitra TFCA for Sumatera mengadakan diskusi bersama Direktur Eksekutif Yayasan Kehati, Bapak M.S Sembiring Rabu (11/1/2016) di Aula Yayasan Caritas PSE Medan. Jumlah mitra yang hadir adalah 10 lembaga dan diskusi ini dihadiri oleh perwakilan TFCA Sumatera Moh. Saleh dan Dwi Pujianto. Dalam sambutannya, Bapak Hamdan sebagai Faswil Regio Sumatera menyampaikan bahwa diskusi menjadi sangat penting dilakukan oleh mitra untuk saling berbagi pengalaman dan menyampaikan perkembangan masing-masing mitra. Beliau mengucapkan terimakasih kepada Bapak M.S Sembiring yang telah hadir dalam diskusi dan kesediaan Caritas dalam menyediakan tempat untuk berdiskusi.



Ketua Yayasan Caritas PSE KAM, Todo Agustinus menyampaikan diskusi merupakan momentum yang sangat baik, wadah untuk bertukar informasi dan saling membangun. “Kalau aula Caritas dibutuhkan untuk berdiskusi, silahkan. Kami juga masih banyak belajar dari para mitra terutama terkait dengan konsep Hutan Kemasyarakatan (HKm)”, ungkapnya. Dalam kesempatan ini juga, Pak Todo menyampaikan program Caritas yang ingin terlibat langsung terkait isu Kepariwisataan Danau Toba. Beliau berharap, Bapak M.S Sembiring membawa isu tersebut dalam rapat bersama oversight committee (Dewan Pengawas) KEHATI. Bagaimana agar mitra TFCA, khususnya yang masuk dalam kawasan DAS Toba Barat terlibat dalam pengelolaan Danau Toba, lanjut beliau.

“Diskusi memungkinkan pertukaran pengalaman bahkan akan menemukan solusi serta menjadi wadah pembelajaran bersama. KEHATI, TFCA, dan Mitra adalah setara, perannya saja yang berbeda. Sehingga setiap kegagalan dan keberhasilan adalah milik bersama. Dalam diskusi ini saya lebih pada pendengar yang ingin mengetahui citra baik dan kendala yang dihadapi mitra TFCA,”,ujar M.S. Sembiring.

Dalam diskusi tersebut, beberapa hal yang disampaikan oleh para mitra TFCA yang disimpulkan oleh Hamdan, adalah kekhawatiran tentang masa depan program, sulitnya memperoleh informasi dari dinas pemerintahan, dan sharing antar mitra untuk pembelajaran bersama perlu dilakukan dan menjadi sebuah forum maupun paguyuban.

“Terkait dengan kekhawatiran sustainability project, nanti akan saya sampaikan ke oversight committee. Saya melihat bahwa TFCA sangat realistis, berpihak, dan bersimpati kepada terhadap capaian mitra. Mitra diharapkan menyampaikan secara real kondisi program dan jika ada permasalahan harus juga menawarkan solusi karena sesungguhnya mitra lebih mengetahui kondisi di lapangan. Kita juga harus menyadari bahwa komunikasi dengan pemerintah memang sulit, karena mereka juga memiliki keterbatasan. Sehingga upaya yang harus dilakukan adalah mitra harus satu suara tentang tentang suatu kebutuhan, dengan demikian akan ditanggapi oleh pemerintah. Saya sangat setuju adanya Sharing session antar mitra, pengadaan acara ekspo yang tepat”, ujar M.S Sembiring. Beliau juga menyampaikan agar mitra memiliki suatu ciri khas yang berdampak dan terus bisa diingat oleh masyarakat di lokasi program. (Berliana Nainggolan)