Penyuluhan dan Praktek Peternakan Babi Berbasis Ekologis di Paroki St. Yoseph Tebing Tinggi

Permasalahan yang telah marak terjadi di sekitar kita berkenaan dengan lahan pertanian adalah konversi lahan yang menjadi hal yang paling sering dihadapi. Konversi lahan pertanian di berbagai daerah akan menggerus lahan pertanian. Alih fungsi lahan yang terjadi saat ini pada dasarnya terjadi akibat politik pembangunan yang tidak jelas arahnya dan tidak terintegrasi sehingga kebijakan pembangunannya cenderung pragmatis. Sering kali pembangunan di satu sektor mengorbankan sektor lain. Seperti halnya perkebunan kelapa sawit yang menjamur di daerah Belidaan

salah satu desa di Paroki Tebing Tinggi Kab. Serdang Bedagai. Prinsipnya, apa yang menguntungkan saat ini, itulah yang dilakukan, tanpa pertimbangan jangka panjang. Oleh karena itu, wajar jika lahan-lahan subur, bahkan beririgasi, dengan cepat beralih fungsi menjadi kompleks industri, perumahan, dan kebun kelapa sawit. Sebab dalam perhitungan jangka pendek, bisa jadi hal itu jauh menguntungkan secara ekonomis ketimbang untuk usaha pertanian. Demikianlah yang dialami oleh penduduk di daerah Serdang Bedagai, laju konversi sawah berubah jadi perkebunan kelapa sawit. Tidak disangkal bahwa perkebunan kelapa sawit akan mendapatkan untung yang besar namun dibalik semuanya itu dampak negatif yang disumbangkannya jauh lebih besar. Contoh saja lahan di wilayah desa Belidaan kec. Sei Rampah kabupaten Serdang Bedagai menjadi lahan rawan banjir yang tak terelakkan oleh masyarakat. Tak bisa disangkal bahwa hal ini disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon kelapa sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya. Hal ini mengakibatkan kerusakan tanah yang semakin serius.

Perlu diketahui bahwa persyaratan-persyaratan kondisi tanah yang diperlukan untuk pengembangan pertanian, khususnya tanaman pangan, jauh lebih “rigid” dari pada untuk nonpertanian. Artinya, untuk keperluan pertanian tanaman pangan, alternatif lahan yang tersedia lebih sedikit dibandingkan untuk nonpertanian. Kalau ada yang cocok untuk pertanian dan lahan subur, sudah dipastikan cocok pula untuk perkebunan kelapa sawit. Tapi, belum tentu sebaliknya. Konversi lahan pertanian untuk keperluan nonpertanian dapat dikatakan bersifat irreversible (tidak dapat balik). Artinya, jika ada lahan yang awalnya digunakan untuk pertanian, lalu dialihfungsikan untuk perkebunan kelapa sawit yang monokultur, lahan tersebut butuh waktu agar dapat dialihfungsikan kembali untuk pertanian seperti pada awalnya. Tanah yang sudah tandus dan kekurangan unsur hara harus diolah kembali.

Di sinilah perlu upaya-upaya serius untuk menjaga lahan yang cocok untuk pengembangan pertanian pangan agar tetap berfungsi sebagai lahan pertanian. Jangan sampai lahan-lahan yang cocok itu terus digusur untuk penggunaan perkebunan kelapa sawit, sementara usaha pertanian justru dialihkan ke tempat yang tandus. Penghasilan petani semakin berkurang dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka akan semakin sulit. Kurangnya lahan pertanian dan sempitnya pengetahuan masyarakat dalam mengelola pertanian menyebabkan taraf hidup petani akan menjadi lebih buruk. Inilah yang dialami olehmasyarakat di desa Belidaan Kab. Serdang Bedagai sekitarnya yang sebagian besar hidup dari bersawah dan berladang. Hal ini tentu saja butuh pendampingan serta dukungan baik dari pemerintah maupun dari lembaga-lembaga sosial

Salah satu tugas penting Divisi Ekora Livelihood CPSE KAM adalah memberikan pendidikan dan pelatihan pengembangan pertanian, peternakan dan perikanan berbasis ekologis. Hal ini tentu saja menerapkan sistem organis dengan menggunakan bahan-bahan yang organik untuk meningkatkan hasil pertanian, perikanan dan peternakan yang berkualitas dan sehat dikonsumsi. Disamping itu juga mengajak para petani mengurangi penggunaan pupuk kimia yang selama ini tergantung pada pemakaian pupuk kimia.

Berkenaan dengan pernyataan di atas Caritas PSE KAM memfasilitasi kegiatan praktek pembuatan kandang dan pakan ternak babi dengan sistem fermentasi. Dikatakan dengan sistem fermentasi karena menggunakan MOL (Mikro Organisme Lokal). Mol inilah yang akan mengurai atau memfermentasi pakan ternak, demikian juga kandang ternak. Hal ini akan memberikan kemudahan bagi peternak, baik dari segi biaya maupun dari segi waktu. Pakan ternak cukup difermentasi selama 4 hari dan tidak perlu dimasak sehingga menghemat bahan bakar. Bahan-bahan yang difermentasi yakni ubi, daun ubi, bungkil kelapa, dedak halus, tepung jagung, tepung ikan, dan jenis lain yang bisa digunakan untuk pakan ternak. Sedangkan kandang ternak dengan sistem fermentasi sangat efektif dan efisien karena tidak perlu membersihkan kandang dan tidak perlu memandikan babi. Selain itu manfaaat yang lebih besar adalah kandang fermentasi akan mampu menghasilkan pupuk organik yang berkualitas karena dibantu oleh bakteri pengurai. Kandang diisi dengan bahan-bahan kompos seperti jerami, daun-daunan, batang pisang yang sudah dipotong-potong. Bahan-bahan ini akan tercampur dengan kohe (kotoran hewan) yang akan diurai oleh bakteri pengurai. Inilah salah satu keuntungan usaha ternak dengan sistem fermentasi. Pada tanggal 20 s/d 22 Februari 2016 kegiatan dilakukan di desa Belidaan Kec. Sei Rampah Kab. Serdang Bedagai. Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah utusan dari stasi-stasi Paroki Tebing Tinggi dan ada juga dari non Katolik.

Demikian hal ini kami buat. Semoga melalui kegiatan yang dilakukan di stasi Belidaan Paroki St. Yoseph Tebing Tinggi menambah pengetahuan baru tentang peternakan berbasis ekologis. Harapan kami semoga umat di stasi Belidaan makin tergugah untuk semangat dalam meningkatkan perekonomian ditingkat keluarga, lingkungan, stasi maupun masyarakat secara luas. Atas dukungan dari CPSE KAM, PSE Parokidan Pastor Paroki Tebing Tinggi, serta semua orang yang memberi hati dalam pertanian organik kami ucapkan terima kasih banyak. Salam Organik.

(Sr. Nicoline Banjarnahor KSFL)