Penyuluhan Dan Praktek Pertanian Berbasis Ekologis Di Paroki St. Kondrad Parzam

Staf Ekora-Livelihood mendampingi umat Paroki Lintongnihuta selama 3 hari yakni mulai tgl 15 s/d 17 Maret 2016. Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan permintaan Paroki Lintongnihuta yang dipadukan dengan program (Matriks Caritas PSE KAM 2016) pada rapat Paripurna bulan November 2015 yang lalu. Penyuluhan ke Paroki St. Konrad di dampingi oleh Sr. Nicoline Banjarnahor KSFL. Saudara Buha Simbolon tidak bisa ikut dalam penyuluhan kali ini karena pada waktu yang bersamaan ada kegiatan di Pulau Batam. Kehadiran Caritas PSE disambut hangat oleh umat Paroki Lintongnihuta, DPP dan Pastor Paroki. Kegiatan dan pelatihan yang kami lakukan di Paroki Lintongnihuta akan kami uraikan seperti di bawah ini :

I.Hari Selasa 15 Maret 2016 Pelatihan dan Praktek Pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal), PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacterium) RP3T (Rizobacterium Pemicu Pertumbuhan Perakaran Tanaman) di Pasar Baru kelompok tani Maduma.



Dalam kegiatan kali ini Caritas PSE memberikan penyuluhan Pertanian berbasis ekologis. Sekilas mengenai kelompok Tani Maduma. Kelompok Tani Maduma ini berdiri pada bulan Januari 2015. Awal berdirinya kelompok ini dilatarbelakangi oleh kunjungan Ketua Yayasan Caritas PSE KAM RP. Markus Manurung OFM Cap. Beliau berkunjung sambil memberi animasi dengan tema Mendorong pembentukan kelompok basis dan memfasilitasi penyusunan AD/ART di Paroki. Setelah pertemuan ini beberapa umat paroki Lintongnihuta membentuk kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Maduma. Ada semangat yang mendorong mereka untuk membentuk kelompok ini. Adapun cita-cita awal dari pembentukan kelompok ini yakni menjalin kekompakan antar umat dan meningkatkan perekonomian yang berbasis gerejani. Ternyata umat sangat antusias dan merespon hal ini. Sehingga kelompok inipun berjalan hingga saat ini. Saat ini kelompok terlihat kompak dan antusias yang walaupun kegiatan yang mereka laksanakan belum terlihat secara fisik. Bahkan program-program kegiatan dalam kelompokpun belum terjadwal. Namun pada saat penyuluhan pertanian yang difasilitasi oleh Caritas PSE KAM mereka sudah mulai membicarakan program-program pelaksanaan yang dilakukan dikemudian hari. Dalam kegiatan ini sebelum masuk pada penyampaian teori tim Caritas PSE memberi masukan-masukan atau suport kepada kelompok tani Maduma. Lalu menyampaikan animasi go-organik atau pertanian selaras alam. Kemudian dilanjutkan dengan praktek pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal) PGPR dan pupuk cair. Kegiatan berlangsung mulai pukul 14:00 – 20:00. Mengapa kegiatan ini dimulai pada siang hari? Karena anggota kelompok tani Maduma mayoritas pegawai dan guru. Sehingga mereka harus masuk kantor dan mengajar di sekolah. Dan pada siang hari kegiatan penyuluhan baru dimulai. Walaupun kagiatan dimulai pada siang hari namun tidak mengurangi semangat dalam penyuluhan ini.

II. Hari Rabu tanggal 16 Maret 2016. Pembuatan Pupuk organik cair, MOL dan PGPR di Siguri-guri Kelompok tani Marsiurupan. Kegiatan penyuluhan pembuatan pupuk cair, PGPR, dan MOL dilakukan pada pukul 09:00 s/d pkl 17:00. Sebelum pemaparan teori pembuatan pupuk cair terlebih dahulu melakukan evaluasi kelompok tani yang sudah dibentuk sekitar satu tahun. Kelompok tani diberi nama kelompok Marsiurupan. Jumlah kelompok ini 15 KK. Kelompok ini terbentuk awalnya karena semangat yang bergelora dari masing-masing umat setelah kelompok tani Maduma terbentuk. Mereka terguguah setelah mendengar bahwa di wilayah Pasar Baru sudah terbentuk kelompok. Cita-cita awal membentuk kelompok ini juga untuk mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antar umat dan juga untuk menambah wawasan pengetahuan mengenai dunia pertanian dan peternakan. “Kami ingin menambah pendapatan keluarga dari kelompok ini tandas salah seorang bapak anggota kelompok tersebut”. Setelah kelompok terbentuk salah seorang dari anggota kelompok menawarkan sebidang lahan untuk ditanamai cabai merah dengan tujuan lahan ini menjadi pilot project. Luas lahan tersebut yakni 5 rantai. Mereka mengusahakan/membudidayakan tanaman cabai merah dengan kesepakatan setiap hari Senin mereka kerja bakti di lahan tersebut mulai pagi sampai sore hari. Modal untuk budidaya cabai ini diperoleh dari masing-masing kelompok. Awalnya kelompok ini berjalan dengan mulus dan kerjasama yang baik. Namun dalam perjalanan waktu ada beberapa anggota yang mengundurkan diri dengan alasan tidak ada waktu untuk kerja bersama dalam kelompok. Pendek cerita keanggotaan kelompokpun berkurang menjadi 5KK. Namun biarpun tinggal hanya 5 KK mereka tetap melanjutkan kegiatan kelompok sampai tanaman cabai mereka menghasilkan. Dan sampai saat ini kelompok tani Marsiurupan masih bertahan walaupun mereka tidak lagi membudidayakan tanaman secara kelompok. Mereka membudidayakan tanaman secara pribadi. Demikianlah sekilas mengenai kelompok tani ini. Dari hasil evaluasi bahwa mereka masih berharap agar kelompok ini tetap dilanjutkan dan makin ditingkatkan. Kehadiran tim CPSE KAM diterima dengan sangat antusias. Mereka sangat aktif bertanya mengenai pertanian yang berbasis ekologis atau pertanian organik. Masyarakat di Lintongnihuta umumnya bertani dengan menggunakan pupuk kimia yang walaupun mereka tahu bahwa dengan menggunakan pupuk kimia secara terus menerus akan berdampak buruk bagi lahan pertanian mereka. Mereka kurang percaya dengan pupuk organik karena butuh waktu yang lama untuk membuktikan hasilnya. Biaya pupuk organik sangat mahal dan prosesnya lambat kata salah seorang petani di desa Siguri-guri. Untuk mengubah mindset mereka bukanlah hal yang mudah apalagi mengajak mereka untuk menggunakan pupuk organik. Namun hal ini menjadi tugas utama dari kami mengingat perlunya untuk mengembalikan keseimbangan alam yang harmonis dan bersahabat. Seusai memberikan animasi pertanian organik dan pemaparan teori pembuatan pupuk organik, kami langsung praktek pembuatan MOL (mikroorganisme lokal). sebagai bahan pengurai untuk pupuk organik padat dan cair. Kami juga membuat PGPR. Pupuk ini adalah pupuk cair sekaligus sebagai zat pengatur tumbuh yang mengandung Rizobacterium yang berperan untuk membantu pertumbuhan perakaran tanaman. Selain PGPR kami juga membuat pupuk cair Kalium. Pupuk ini terbuat dari batang pohon pisang dan air nira. Umat sangat respon dengan kegiatan ini karena pembuatan pupuk ini tidak sulit dan bahan-bahan pun mudah didapat. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar.

III. Hari Kamis tanggal 17 Maret 2016. Pembuatan Pupuk organik padat, MOL dan PGPR di Hutagurgur Kelompok tani Maju Bersama.

Kelompok Tani Maju Bersama adalah kelompok yang terbentuk setelah kelompok Maduma dan Kelompok Marsiurupan terbentuk. Kelompok inipun tidak kalah kompaknya dengan kedua kelompok tani di atas. Jumlah kelompok ini ada 25 KK. Mereka sangat senang dan respon dengan kehadiran CPSE KAM. Dari hasil evaluasi dengan kelompok ini bahwa tahun lalu CPSE pernah datang memberikan penyuluhan mengenai PPA (Pupuk Pestisida Alami). Namun berdasarkan pengalaman setelah mereka mengaplikasikan PPA ini dampaknya untuk tanaman kurang bernas sehingga mereka kembali menggunakan pestisida. Namun biarpun PPA tidak mereka lanjutkan semangat berkelompok masih sangat tinggi. Mereka berkumpul pada hari-hari yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Mereka berdiskusi dan saling bertukar pikiran untuk memperkaya pengetahuan mereka dalam dunia pertanian dan peternakan. Pada kegiatan kali ini peserta yang hadir ada 30 orang. Sesudah teori lalu pembuatan PGPR dan pupuk padat. Mereka mengatakan bahwa pembuatan pupuk padat ini ternyata sangat sederhana dan bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan. Ternyata alam kita yang ada di sekitar kita ini cukup bagi kita. Hanya saja kita yang kurang pintar untuk mengolahnya. Syukurlah CPSE datang memberikan pendidikan dan pelatihan ini. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik hingga selesai. Harapan kepada kelompok tani Maju Bersama semoga makin berkembang dan beriman yang teguh.


Refleksi:

Pertanian berbasis ekologis sebenarnya menjadi impian semua petani tapi karena biaya yang tinggi dan butuh waktu lama maka petani kurang tertarik dengan sistem ini. Ada harapan bahwa kelompok tani Maju Bersama, Kelompok Maduma dan Kelompok Marsiurupan semakin semangat dalam mengaplikasikan pertanian berbasis ekologis. Bersahabat dengan alam dan sistem pertanian yang bebas dari penggunaan zat-zat kimia menjadi cita-cita bersama untuk menghargai bumi sebagai milik kita bersama. Semoga semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya mencintai alam dan lingkungan yang sehat dan bersahabat