Pelatihan pemanfaatan lahan sempit menjadi kebun rumah tangga sebagai pelayanan pastoral bagi keluarga Paroki st. Yosep tanah jawa

Panggilan menyelamatkan lingkungan sangat urgen saat ini. Manusia sudah terlalu banyak mengeksploitasi alam yang meliputi dunia satwa, fauna, flora, sumber alam, dst demi kepentingannya sendiri. Kita dipanggil untuk bertindak secara lebih bermurah hati serta mengosongkan diri, demi pelestarian dan damai sejahtera seluruh bumi. Manusia dalam Alkitab dipanggil untuk bertanggungjawab positif di tengah makhluk ciptaan Allah (Kejadian 1:28). Tanggungjawab dan kepedulian dalam melestarikan lingkungan hidup hendaknya pertama-tama diwujudkan dalam keluarga kecil. Keluarga menjadi sentral dalam membina dan memupuk rasa cinta dan kepedulian akan lingkungan hidup dengan tidak membuang sampah dengan sembarangan.

Pelatihan pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi

daur ulang perlu terus diupayakan mengingat produksi sampah rumah tangga semakin banyak dan didukung rendahnya kesadaran 3R, yaitu reuse (memakai kembali barang bekas yang masih bisa dipakai), reduce (berusaha mengurangi sampah), dan recycle (mendaur ulang sampah agar dapat dimanfaatkan). Hal ini menjadi pertimbangan bagi Tim Caritas PSE KAM untuk mencari cara yang tepat dalam mengelola sampah anorganik sehingga tidak mencemari lingkungan, tetapi justru mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat, yaitu dengan menjadikan sampah anorganik (botol plastik bekas) menjadi berbagai kreasi yang mempunyai nilai ekonomis, seperti wadah tanaman sayuran, tanaman hias. Pada tahap awal pelatihan peserta diberikan pengetahuan tentang sampah, jenis sampah, dan sumber sampah, pengelolaan sampah dengan 3R (reduce, reuse, recycle), serta pengelolaan sampah anorganik menjadi aneka kreasi daur ulang. Dalam tahap ini peserta pelatihan diubah pola pikirnya terhadap sampah, ”jika dulunya barang bekas langsung kita buang dan menjadi tumpukan sampah”, maka pola pikir ini harus kita ubah menjadi ”sampah dapat kita olah menjadi sesuatu benda yang berguna”. Dengan menerapkan prinsip recycle, barang-barang bekas atau sampah dapat diolah kembali menjadi suatu bentuk yang memiliki daya guna seiring dengan kreatifitas yang dimiliki. Dengan kreatifitas yang dimiliki, botol plastik bekas warna-warni dapat dijadikan berbagai bentuk yang cantik sehingga terlihat artistik dan bisa dibuat menjdi pot-pot tanaman hias maupun tanaman sayuran. Hal ini bisa membantu mempermudah keluarga-keluarga untuk menerapkan kegiatan kebun keluarga. Kebun keluarga atau rumah tangga berarti kebun yang diusahakan di sekitar lingkungan rumah.

Banyak keluarga yang tidak mempunyai lahan untuk dijdikan kebun lantas mereka serba beli dari warung-warung mulai dari bumbu masakan, sayuran dan sejenisnya. Tak terasa uang kantong habis disedot hanya untuk beli sayuran dan buah-buahan. Sementara kalau kita mau bisa dibuat kebun keluarga di halaman rumah dan belakang rumah. Ada banyak cara bisa dibuat untuk membudidayakan tanaman sayuran misalnya di pot, ember bekas, karung, jeregen, platisk bekas. Bisa dengan sistem hidroponik dan bisa juga semi hidroponik. Hal inilah yang dilakukan di Paroki Tanah Jawa mengingat bahwa pada umumnya mereka tidak punya banyak lahan untuk bertanam sayuran dan buah-buahan. 


Berkebun rumah tangga sangat jarang kita temui baik di perkotaan maupun di pedesaan. Berkebun rumah tangga masih sering dipandang sebelah mata. Kerapkali orang berpikir bahwa halaman sekitar rumah yang sempit akan menghambat seseorang untuk berkebun. Memang benar bahwa lahan yang luas akan memudahkan seseorang untuk berkebun, dengan variasi yang dia suka. Karena semakin luas lahan akan semakin banyak jumlah tanaman dan jenis tanaman yang dapat dia ditanam termasuk di dalamnya yaitu pohon buah yang biasanya berdaun lebat dan berbatang besar. Akan tetapi, lahan yang sempit juga bisa dimanfaatkan untuk berkebun apabila ditata dengan baik dan rapi. Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki St. Yosep Tanah Jawa Bapak Mangasi Sinaga melihat peluang tersebut cukup bagus di kembangkan untuk membantu perekonomian Masyarakat khususnya wilayah Paroki Tanah Jawa, dimana selama ini Masyarakat kebanyakan membiarkan halaman rumahnya di tumbuhi rerumputan liar yang tidak bermanfaat. Memang ada juga yang menanam tanaman hias, tapi ada baiknya kalau dibarengi dengan tanaman yang bisa di komsumsi sehari-hari, baik tanaman sayuran maupun tanaman obat keluarga (TOGA). Rendahnya kesadaran masyarakat akan hal tersebut diatas, PSE Paroki lewat Sermon Paroki memprogramkan pelatihan pemanfaatan lahan sempit di Paroki bulam Mei 2016. Hasil rapat tersebut juga diajukan pada Rapat Paripurna Yayasan Caritas Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Medan (YCPSE KAM) bulan Nopember 2015 di PPU Karang Sari P. Siantar. Program tersebut ditanggapi oleh pihak Caritas PSE KAM.

Jumat 13 Mei 2016 program pelatihan pemanfaatan lahan sempit dilakukan oleh Caritas PSE KAM dari divisi Ekora di aula Paroki St. Yosep Tanah Jawa yang diikuti 30 orang peserta, atas kerjasama Caritas PSE KAM dengan PSE Paroki kegiatan ini berjalan dengan baik. Kegiatan ini diisi dengan tiga sesi yakni: yang pertama animasi tentang ekonomi keluarga yang di bawakan oleh Buha Simbolon, yang kedua pemaparan materi pemanfaatan lahan sempit oleh Sr. Nicolin Banjarnahor KSFL dan praktek tehnik pembuatan media tanam bersama seluruh peserta. Umat pada umumnya sangat antusias mengikuti kegiatan ini dan mereka bertekad akan segera mempraktekkannya di rumah masing-masing. RP. Joseph Rajagukguk OFMCap dalam sambutannya menyatakan, setelah kegiatan ini selesai, kami akan mengadakan perlombaan antar Stasi tentang pemanfaatan lahan sempit, nanti akan kami lakukan pada bulan Agustus 2016. Paroki Tanah Jawa mengharapkan adanya kerjasama yang baik dari Caritas PSE KAM sehingga kegiatan pemanfaatan kebun rumah tangga ini dapat diterapkan oleh seluruh umat baik yang ada di paroki maupun di stasi-stasi. Semoga melalui kegiatan ini menambah pengetahuan dan wawasan yang baru bagi umat di Tanah Jawa khususnya dan umat di keuskupan Agung Medan umumnya. Salam dan Tuhan Memberkati