Pelatihan Handycraft Pemanfaatan Limbah Lidi Kelapa Sawit Bagi Kaum Perempuan di Paroki Tebing Tinggi

 

(Tebing Tinggi, Caritas PSE KAM) Sebanyak 30 peserta kaum perempuan di Paroki Tebing Tinggi, mengikuti pelatihan membuat kerajinan tangan dari limbah lidi kelapa sawit yang dilaksanakan oleh PSE Paroki Tebing Tinggi bersama Pemuda Katolik Kota Tebing Tinggi dan PWK St. Monika Paroki Tebing Tinggi bekerja sama dengan Yayasan Caritas PSE KAM. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Paroki Tebing Tinggi selama 3 hari, tanggal 19 s/d 21 Agustus 2016. Para ibu rumah tangga diberi pelatihan, khususnya dalam membuat kerajinan tangan pemanfaatan limbah lidi kelapa sawit menjadi kerajinan piring tempat buah, tempat parcel, tempat kolekte dll yang bisa dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan. Selain di Paroki Tebing Tinggi, ibu rumah tangga di paroki lain diperkirakan banyak yang mengharapkan program pelatihan keterampilan tangan yang harus menjadi perhatian pemerintah dan gereja.

Kegiatan pelatihan ketrampilan ini dilaksanakan dalam rangka memberdayakan kaum perempuan agar mereka bisa berkarya dan memberi masukan dalam perekonomian keluarga. Potensi tersebut perlu digerakkan dan dioptimalkan agar membawa dampak positif bagi pembangunan di daerah masing-masing. Jika ibu rumah tangga bisa bekerja di sektor kerajinan tangan, maka dapat dipastikan angka kemiskinan akan berkurang. Harapannya pelatihan keterampilan tangan yang diberikan nanti tidak membutuhkan bahan baku yang sulit, tetapi bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada disekitar. Turut hadir tutor dari Paroki Aek Nabara, Ibu br Sitanggang, yang sudah lama menggeluti kerajinan dari lidi sawit ini. Sedangkan Sr. Nicoline, KSFL dan Buha Simbolon (Yayasan Caritas PSE) memberikan animasi dan motivasi kepada peserta.

Memulai bisnis sampingan, bagi ibu rumah tangga merupakan sebuah pilihan tepat dan pantas untuk dicoba. Untuk itu diharapkan Pemerintah daerah juga bisa segera bergerak untuk memberdayakan mereka agar bisa tertangani dengan baik khususnya membantu dalam pemasaran produk.

Selain memiliki keterampilan tangan, ibu rumah tangga yang akan berbisnis atau bekerja sampingan, harus didorong memiliki jiwa wirausaha. Dalam membangun semangat berwirausaha, dibutuhkan motivasi serta kreatifitas sebagai modal awal tiap individu. Semoga dengan sedikit ilmu yang kita berikan ini, dapat mewujudnyatakan pesan Sinode KAM “Keluarga sebagai Gereja Kecil. (Mas Anung)