Sosialisasi Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang

 

Pada tanggal 14 Agustus 2014 telah diadakan Sosialisasi dan Launching project “Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan  Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang”.  Acara diadakan di Aula Paroki Santa Lusia Parlilitan, dimulai pukul 09.00 wib sampai dengan pukul 13.00 wib.

Tujuan dari sosialisasi tersebut adalah untuk memberikan informasi yang seluas-luasnya bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat terkait rencana project dan menggalang dukungan dari semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam project.

 

Acara  ini dihadiri oleh 80 yang berasal dari berbagai unsur pemangku kepentingan yang ada dalam masyarakat. Dalam acara ini dihadiri oleh Direktur Caritas PSE KAM : Pastor Markus Manurung,OFMCap, Ketua Yayasan Caritas PSE KAM : Ir. Todo Pasaribu, Ketua yayasan JPIC Kapusin : Pastor Guido Situmorang, OFMCap, Ketua Yayasan Vitae Dul Cedo : Suster Reynalda Sinaga, Perwakilan Yayasan KEHATI: Bapak Dwi Pujiyanto, Anggota DPRD : Ir. Mutiha Hasugian, Camat Tarabintang: Ir. Robert Marbun dan juga dihadiri juga oleh para pemangku kepentingan dari Kecamatan Tarabintang, pakkat dan Parlilitan seperti tokoh adat, tokoh agama, kepala-kepala sekolah, perwakilan dari Puskesmas, kepala-kepala desa, Aparat TNI, tokoh adal Lembaga Adat Meha Mungkur, Penyuluh kecamatan dan Guru. 

 

Registrasi peserta dilakukan  pukul 08.30 WIB, para undangan mengisi daftar hadir sebelum masuk pada kedalam aula pertemuan. Setelah registrasi peserta selesai selanjutnya moderator pertemuan yakni Darwis Tamba dan Berliana Nainggolan mengajak seluruh undangan untuk memasuki ruangan pertemuan agar pertemuan dapat segera dimulai. Sambutan  selamat dating disampaikan oleh moderator dan pertemuan tersebut diawali dengan doa pembukaan yang dipandu oleh Pastor Frans OFM Cap. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan dengan semangat oleh para undangan sebagai pertanda bahwa acara tersebut adalah  acara resmi.

 

Pembicara pertama dalam acara  sosialisasi dan launching project tersebut adalah Pastor Markus Manurung OFM Cap sebagai  Direktur Caritas PSE KAM  dan mewakili Konsorsium Caritas. Dalam sambutan dan pengantarnya disampaikan bahwa Konsorsium Caritas adalah lembaga gereja yang berada di Keuskupan Agung Medan yang anggotanya antara lain:  Yayasan Caritas Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Medan, Yayasan Justice Peace and Integrated Creation Kapusin Medan dan Yayasan Vitae Dul Cedo Kongregasi KYM. Yang menjadi ciri khas dan nilai pemersatu dari konsorsium Caritas yaitu semua anggota merupakan Lembaga sosial gereja yang non profit, bukan lembaga yang mencari keuntungan, menjunjung tinggi Transparansi – Akuntabilitas – kredibilitas, menjunjung tinggi martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, Bonum Commune (kepentingan umum), keberpihakan kepada kaum lemah.

 

Beberapa pengalaman Konsorsium Caritas PSE juga dijelaskan oleh Pastor Markus diantaranya adalah mengadakan penghijauan seluas 10 ha di gunung Pusuk Buhit yang  bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir, melakukan Penghijauan dan perawatan  sepanjang Jalan Kecamatan Panombean Kabupaten Simalungun sepanjang 16 kilo meter,  mengadakan animasi keperdulian lingkungan hidup pada momen perayaan hari pangan sedunia, dan menganimasi sekolah – sekolah dalam hal penanaman keperdulian terhadap lingkungan hidup.

Selain iitu Pastor Markus juga menjelaskan beberapa bidang yang menjadi kepedulian bersama antara Vitae dul Cedo dan JPIC Kapusin Medan.

 

Pengenalan project Projek Program TFCA for Sumatera yang diadakan  akan sangat menentukan langkah besar yang akan dilakukan kemudian, ketika sosialsiasi berhasil maka program akan lebih mudah diterima di masyarakat dan ancaman kegagalan dapat direduksi. Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan pilot project dari program TFCA  sehingga perasnserta dari para pemangku kepentingan dan masyarakat terlibat aktif dalam project ini. Project ini akan dilaksanakan di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Pakkat dan Kecamatan Tarabintang.  Program ini diadakan di 6 Desa yaitu Siambaton dan Parmonangan dari kecamatan Pakkat, Tarabintang, Mungkur, Siantar Sitanduk dan Simbara dari Kecamatan Tarabintang.

 

Pastor Markus juga menjelaskan proses yang telah dilalui hingga program TFCA bisa sampai di Pakkat dan Tarabintang. Pada 2011 yang lalu Caritas sudah mendapat informasi tentang ada peluang untuk bekerja sama dengan TFCA, diadakan kajian survei/mengenai wilayah secara umum, mengumpulakn data, berdiskusi dengan Kepala Dinas Kehutanan Kab. Humbang Hasundutan dan beberapa nias terkait lainnya tentang peluang kegiatan ini.  Pertengahan 2013 Yayasan Kehati Indonesia sebagai administrator program TFCA for Sumatera membuka siklus hibah ke IV. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Konsorsium Caritas. Proposal dan kelengkapannya disusun dan dikirimkan ke Yayasan Kehati Indonesia. Dalam beberapa seleksi proposal Caritas akhirnya dinyatakan dapat diterima dan dikabulkan. Proses selanjutnya saat ini pengenalan berkaitan dengan kegiatan tersebut, melaporkan hasil kegiatan ini kepada tingkat kabupaten dan instansi terkait, beberapa bulan kedepan akan masuk kajian Kehutanan dan Kajian social Ekonomi dan Budaya Masyarakat.

 

Diakhir paparannya Pastor Markus menyampaikan beberapa harapan yaitu semoga dengan pertemuan ini masyarakat dan para pemangku kepentingan  semakin mengenal konsorsium Caritas dan dapat menerima konsorsium ini sebagai mitra dalam pengembangan masyarakat. Semakin mengenal program TFCA dan kegiatannya yakni pengembangan masyarakat  yang berada dikawasan pinggiran hutan lindung.

 

Revolusi Mental

Dalam kata sambutannya Pastor Masseo Sitepu, OFMCap yaitu Pastor Kepala Paroki Parlilitan menyampaikan  kehadiran gereja katolik sangat kental kehadirannya didalam masyarakat. Kemajuandan perkembangan daerah Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang tidak boleh dipisahkan dari kehadiran Gereja Katolik. Gereja Katolik baru saja merayakan Jubileum 75 Tahun di di Kabupaten Humbang Hasundutan. Gerakan pengembangan masyarakat terus didorong oleh gereja Katolik hingga saat ini. Program Pelestarian hutan pemberdayaan masyarakat yang disosialisasikan saat ini juga merupakan buah dari penggalangan kerjasama yang lebih luas untuk mengembangkan ekonomi masyarakat yang lebih luas pula.

 

Menurut beliau supaya program ini berhasil diperlukan Revolusi Mental dan perbaikan karakter manusia. Manusia harus menjaga lingkungan hidup agar  lingkungan hidup tersebut juga menjaga mereka. Hutan merupakan Paru-Paru dunia yang harus dijaga demi kelangsungan hidup manusia. Pastor Masseo juga menjelaskan bahwa dengan menjaga hutan  pasokan air bersih akan terjamin, air irigasi cukup, lingkungan akan aman dari bencana dan keaneka ragaman hayati dapat dinikmati anak cucu kita dari generasi ke gernerasi.

 

Dalam kesempatan selanjutnya Ir. Robert Marbun selaku Camat kecamatan Tarabintang menyampaikan sambutannya mewakili pemerintah daerah,  Beliau mengatakan siap mendukung gerakan yang dilakukan dalam project TFCA yang kali ini kecamatan yang dipimpinnya merupakan pilot project. Robert Marbun juga menghimbau masyarakat agar tidak melakukan lagi kebiasaan buruk dalam pertanian yaitu lading berpindah karena akan sangat merusak lingkungan. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Konsorsium Caritas PSE dan yayasan Kehati atas kepedulian terhadap hutan dan masyarakat pinggiran hutan. Project Perlindungan dan Pelestarian Hutan secara Berkelanjutan berbasis masyarakat dan Pengembangan  Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Lokal di Kecamatan Pakkat dan Tarabintang ini sejalan dengan program pemerintah kabupaten Humbang Hasundutan maka dukungan moril maupun materil akan diberikan untuk keberhasilan project ini.

 

Hal senada dan dukungan juga disampaikan oleh  seorang Anggota DPRD yaitu Ir. Mutiha Hasugian, Beliau mengatakan siap mendukung dalam kelancaran proses pembentukan perdes dan Hutan kemasyarakat yang direncanakan dalam project ini. Masukan yang baik juga disampaikan oleh beliau antara lain adalah mendatangkan ahli tanah agar masyarakat tahu jenis tanaman apa saja yang sebenarnya cocok dikembangkan  di daerah tersebut. Dengan pengetahuan yang memadai tenatang bercocok tanam maka lading berpindah yang selama ini dilakukan diharapkan bisa berkurang.

 

Raja Adat Huta Anggoci  Bapak Mungkur dan perwakilan kepala desa yang diwakili bapak Albinus Tumanggor juga menyampaikan dukungan yang sebesar-besarnya kepada program ini. “Kami siap membina dan mengembangkan pelestarian lingkungan hutan, menggerakkan masyarakat kapan saja dan dimana saja kami siap”, demikan disampaikan kepala desa Tarabintang.

Dwi Pujianto sebagai perwakilan dari Yayasan Kehati dalam acara ini juga menyampaikan kata sambutan dan perkenalan TFCA. Sambutannya diawali dengan ungkapan salut pada pertemuan sosialisasi dimana hamper seluruh pemangku kepentingan hadir dan memberi dukungan. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan sejarah yayasan Kehati dengan project TFCA sampai pada pendanaan project.  kata sambutan dari Bapak Dwi Eka Pujiyanto dari Perwakilan Kepala TFCA for Sumatera. Beliau juga menjelaskan project bersama konsorsium  Caritas PSE akan berjalan dalam jangka waktu 3 tahun, dimana setengah tahun pertama akan berisi kajian dan dilanjutkan dengan dua setengah tahun berikutnya adalah konservasi dan pemerdayaan masyarakat yang kegiatannya akan disesuaikan dengan kajian yang sudah dilakukan. Kerjasama dalam waktu mendatang tidak tertutup kemungkinan jika project pertama ini berjalan dengan memuaskan. “Jika berhasil maka akan bisa dikembangkan/ direplikasi ke beberapa daerah yang lain” tutur beliau.

Sebuah film singkat juga diputar untuk memotivasi peserta sosialisasi agar menjaga lingkungan hutan.

 

Pemaparan detail project disampaikan oleh Ir.Todo Pasaribu  mewakili Konsorsium Caritas. Pemaparan dimulai dari 5 komponen intervensi yaitu:

1.      Kajian baseline di kawasan hutan lindung kecamatan Pakkat Tarabintang

2.      Restorasi Hutan lindung seluas 100 ha di kecamatan Pakkat dan 200 ha di kecamatan Tarabintang

3.      Pengembangan ekonomi masyarakat disekitar kawasan hutan lindung kecamatan Pakkat dan Tarabintang

4.      Fasilitasi inisiasi / pengembangan hutan kemasyarakatan

5.      Advokasi, Informasi, Edukasi dan Awarness.

 

Beliau menjelaskan masing masing komponen intervensi tTujuannya yaitu memahami data dan informasi yang lengkap berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat, kawasan hutan rkait tujuan masing-masing komponen dan berbagai aktivitas/ kegiatan yang dilakukan di setiap komponen tersebut.

Setelah pemaparan lengkap project disampaikan  selanjutnya dibuka kesempatan dialog Tanya jawab terkait project bersama seluruh pemangku kepentingan yang hadir. Dalam sessi Tanya jawab tersebut ada beberapa pertanyaan dan masukan yang muncul diantaranya adalah:

 

1.      Kepala desa Tarabintang, Albinus Tumanggor

Pertama Beliau menginformasikan bahwa data penerima BLT/ BLSM yang ada tidak akurat sehingga kajian untuk menentukan penerima manfaat program harus dilakukan lebih teliti. Yang kedua beliau menyampaikan bahwa SK 44 Kemenhut sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi dan bertanya bagaimana kita dan program ini menyikapi hal tersebut.

Jawaban dari Todo Pasaribu: penentuan penerima manfaat project akan dilakukan setelah kajian secara menyeluruh dilakukan dan akan dikonfirmasi kepada seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan penerima manfaat itu benar benar orang/ keluarga yang tepat. Menanggapi tentang informasi pembtalan SK 44 Kemenhut oleh MK Todo Pasaribu menyampaikan akan menelusuri informasi tersebut dalam kajian kebijakan pegelolaan hutan.

 

2.      Maringan Simbolon sebagai Vorhanger Katolik dari Parmonangan.

Apa yang perlu kami persiapkan (6 desa) sebagai bukti  kami ikut dalam project ini?

Jawaban Todo pasaribu mengatakan bahwa selama 6 bulan kedepan sampai Desember 2014 kegitan yang dilakukan masih kajian maka sebaiknya pemerintah desa, tokoh adat  dan tokoh agama mau bekerja sama untuk memperlancar kajian yang dilakukan.  

 

3.      Bapak Jawagon Sigalingging dari Danramil Pakkat.

Beliau menyampaikan keterbukaan TNI dalam hal kerjasama dan menyambut baik program ini, pengalaman yang dialami ketika menangani Toba Go Green juga disampaikan, kendala yang dialami adalah setelah ditanam masyarakat membakar lahan yang ditanami tersebut sehingga gerakan itu tetap gagal, pertanyaannya adalah apa upaya yang bisa dilakukan supaya gerakan ini bisa berhasil?

Todo Pasaribu menanggapi sambutan kerjasama yang disampaikan DanRamil tersebut, dan untuk mencegah kegagalan serupa Caritas sudah mengantisipasi dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan restorasi, melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan ada dukungan yang diberi kepada masyarakat yang telibat langsung (penerima manfaat) seperti peningkatan kapasitas melalui pelatihan, bibit, rumah kompos dan lain lain yang bisa diakses oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

 

4.      Alfonsius Tinambunan sebagai sekretaris camat (sekcam).

Beliau bertanya akankah Kecamatan Parlilitan akan mendapat program serupa? Saran beliau jangan hanya Pakkat dan Tarabintang saja sebaiknya Parlilitan juga ikut.

Jawaban dari Todo Pasaribu  adalah Pakkat dan Tarabintang adalah Pilot project tidak tertutup kemungkinan akan dikembangkan juga di Parlilitan. Pada perencanaan awal memang parlilitan juga termasuk menjadi daerah intervensi tetapi atas dasar usulan dari Yayasan Kehati  dan untuk efektifitas efesiensi kerja maka ruang lingkup kegiatan dibatasi pada tahap pertama ini untuk kecamatan pakkat dan Tararabintang terlebih dahulu.

 

5.      Marulak meha sebagai Raja Huta Simbara.

Beliau bertanya apakah sudah terdata lahan 100 ha dan 200 ha yang akan direstorasi?

Ir. Todo pasaribu menjawab bahwa luasan dan lokasi akan ditentukan berdasarkan hasil kajian dari konsultan kehutanan, lahan kritis akan menjadi sasaran restorasi.

6.      Alfein P. Sirait, Koramil.

Menurut Alfein P Sirait, Kerjasama seluruh pemangku kepentingan dan mayarakat harus ditingkatkan untuk menjaga program ini tetap berada di relnya. Pertanyaannya adalah apa yang harus dipersiapkan kedepannya dan bagaimana sebaiknya dilakukan kepada penebang hutan?

Untuk menanggapi masukan tersebut Todo Pasaribu menjawab para pemangku kepentingan dan masyarakat harus bekerjasama, penebangan liar harus dikontrol bersama masyarakat dan aparat pemerintah. Dalam program ini akan diuslkan Hutan kemasyarakatan agar masyarakat tidak lagi illegal masuk hutan.   Dengan demikian Masyarakat juga dapat mengakses hasil hutan sekaligus dengan menjaga kelestarian hutan.

Hutan lestari masyarakat sejahtera.